toolbar Kajian Hukum Fikih Campurnya Shof Dalam Kampanye 02 Di GBK JAKARTA - Pesantren NUsantara

Kajian Hukum Fikih Campurnya Shof Dalam Kampanye 02 Di GBK JAKARTA


Shalat merupakan ibadah yang sangat penting, karena merupakan Ibadah yang pertama kali akan dihisab di akhirat kelak, jika shalat yang dilakukan baik maka amal ibadah selain shalat dianggap baik, begitu pula sebaliknya jika shalat yang dilakukan buruk maka amal ibadah selain shalat dianggap buruk.

Dalam melakukan shalat supaya dianggap baik dan sah sesuai syariat islam maka tentunya harus dilakukan sesuai apa yang diajarkan oleh nabi :
صلوا كما رأيتموني أصلي
Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.

Tentunya untuk melihat shalat yang dilakukan nabi pastilah kita tidak bisa dan tidak mungkin kecuali dengan melihat shalat yang dilakukan oleh para Ulama' sebelum kita yang mempunyai silsilah kelilmuan yang tentunya sambung sampai nabi, karena Ulama' adalah pewaris para nabi.

Ulama' sejak zaman sahabat sampai adanya imam madzhab (80-150 H.) Sudah merumuskan hukum melalui metode ijtihad dan hal ini jauh sebelum imam Bukhori dan imam Muslim terlahir di dunia ini.

Sehingga dalam hal ini kami akan membahas shalat yang dilakukan di GBK Jakarta dengan dua tinjauan sesuai syarat dan rukun yang telah dirumuskan oleh Imam Madzhab :

📒Tinjauan Shof :

1. Urutan shof dalam berjamaah bila dalam satu bangunan /lokasi adalah laki-laki dewasa, lalu anak-anak kemudian wanita. Bila menyalahi urutan tersebut maka keutamaan jamaah (pahala 27 derajat) hilang, sebagaian ulama berpendapat keutamaan shofnya yang hilang (Fathul Mu'in Bab Sholat Jamaah)

2. Sedangkan bila campur dalam satu shof/sejajar hukumnya MAKRUH. Tentang hukum ke absahan sholatnya ada 2 pendapat: Hukumnya Sah, seperti pendapat Imam Syafi'i dan Imam Malik. Pendapat ke 2 Hukumnya BATAL. Pendapat ini disampaikan oleh Abu Hanifah, Syekh Abu Bakar dan Abu Hafsh dari Ulama Madzhab Hambali.(al-Fatawa al-Kubro, 2/325)

3. Bersentuhan kulit antara laki2 dan perempuan yang bukan mahram, disengaja/tidak menurut mayoritas ulama hukum nya batal. Dalam situasi padat berdesakan seperti itu sangat mungkin terjadi.(Fathul Mu'in Bab Wudlu')

4. Keabsahan sholat bukan berarti aman dari hukum haram, bila dalam pelaksanaannya melanggar aturan Allah. Semisal tempat yg dipakai adalah hasil ghosob atau dalam pelaksanaannya terjadi campur baur laki-laki vs Perempuan hingga timbul fitnah dan sejenisnya (Al Bajuri Bab Sholat)

5 . Apakah situasi tersebut bukan masuk hajat syadidah atau dlorurot? 
Betul, situasi memang padat dan berdesakan. Namun, SEMUA YANG HADIR tujuan nya adalah POLITIK. Bukan IBADAH MURNI. Sangat berbeda dengan situasi semial haji. 

Tambahan refrensi :
 وَقَالَ الْجُمْهُورُ غَيْرُ الْحَنَفِيَّةِ:إِنْ وَقَفَتِ الْمَرْأَةُ فِي صَفِّ الرِّجَالِ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاةُ مَنْ يَلِيهَا وَلَاصَلَاةُ مَنْ خَلْفَهَا، فَلَا يَمْنَعُ وُجُودُ صَفٍّ تَامٍّ مِنَ النِّسَاءِ اِقْتِدَاءُ مَنْ خَلْفَهُنَّ مِنَ الرِّجَالِ، وَلَا تَبْطُلُ صَلَاةُ مَنْ أَمَامَهَا، وَلَا صَلَاتُهَا، كَمَا لَوْ وَقَفَتْ فِي غَيْرِ صَلَاةٍ،

وَالْأَمْرُ بِتَأْخِيرِ الْمَرْأَةِ: أَخِّرُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَخَّرَهُنَّ اللهُ لَا يَقْتَضِي الْفَسَادَ مَعَ عَدَمِهِ؛ لِأَنَّ تَرْتِيبَ الصُّفُوفِ سُنَّةٌ نَبَوِيَّةٌ فَقَطْ، وَالْمُخَالَفَةُ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ النِّسَاءِ لَا تُبْطِلُ الصَّلَاةَ، بِدَلِيلِ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ وَقَفَ عَلَى يَسَارِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ

📒Tinjauan cadar yang sampai menutup dahi :
Yang perlu diperhatikan dalam hal sujud adalah menempelnya 7 anggota sujud dengan syarat dahi harus terbuka tanpa adanya oenhalang sama sekali

خاتمة أعضاء السجود سبعة : الجبهة وبطون الكفين والركبتان وبطون الأصابع و الرجلين

Anggota sujud ada 7 : dahi, telapak tangan, kedua lutut danjari-jari kedua kaki yang dalam. [ Safinatunnajah ].

SYARAT SUJUD :
فصل) شروط السجود سبعة : أن يسجد على سبعة أعضاء وأن تكون جبهته مكشوفة والتحامل برأسة وعدم الھوى لغيره وأن لايسجد على شيء يتحرك بحركته وارتفاع أسافلة على أعاليةوالطمأنينة فيه

1. Harus dengan 7 anggota badan (sebagaimana keterangan diatas)
2. Harus dengan dahi terbuka
3. Kepala harus ditekan (ketika meletakkan di tempat sujud)
4. Tidak boleh ada tujuan lain ketika membungkuk kecualiuntuk sujud
5. Tidak boleh sujud diatas sesuatu yang bergerak bilabergerak ketika untuk sujud
6. Kepalanya harus lebih rendah daripada pantat
7. Harus tuma’ninah. [ ~Safinatunnajah ].

Refrensi lain :
حاشية الجمل الجزء 1 صحـ : 211 مكتبة دار الفكر العربي

وَأَقَلُّهُ مُبَاشَرَةُ بَعْضِ جَبْهَتِهِ وَلَوْ شَعْرًا نَابِتًا بِهَا مُصَلاَّهُ أَيْ مَا يُصَلِّيْ عَلَيْهِ بِأَن لاَّ يَكُونَ عَلَيْهَا حَائِلٌ كَعِصَابَةٍ فَإِنْ كَانَ لَمْ يَصِحَّ إِلاََّ أَن يََّكُونَ لِجِرَاحَةٍ وَشَقَّ عَلَيْهِ إزَالَتُهُ مَشَقَّةً شَدِيدَةً فَيَصِحُّ (الشرح) قَوْلُهُ مُبَاشَرَةُ بَعْضِ جَبْهَتِهِ مُصَلاَّهُ وَيُتَصَوَّرُ السُّجُودُ عَلَى الْبَعْضِ بِأَنْ يَكُونَ السُّجُودُ عَلَى عُوْدٍ مَثَلاً أَوْ يَكُونَ بَعْضُهَا مَسْتُوْرًا فَيَسْجُدَ عَلَيْهِ مَعَ الْمَكْشُوفِ مِنْهَا اهـ ع ش عَلَى م ر وَالْجَبْهَةُ طُولاً مَا بَيْنَ صِدْغَيْهِ وَعَرْضًا مَا بَيْنَ مَنَابِتِ شَعْرِ رَأْسِهِ وَحَاجِبَيْهِ اهـ ق ل عَلَى الْجَلاَلِ

Kesimpulan dari tinjauan fikih bahwa : 
1. Sholat subuh yg dilakukan di GBK Jakarta tidak mendapatkan fadhilah 27 derajat karena penataan shaff yang menyalahi aturan syar'i
2. Perempuan yang bercadar serta tidak membuka dahinya sehingga menghalangi menempelnya dahi pada tempat sujud maka shalatnya dianggap tidak sah

Wallahu A'lam

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kajian Hukum Fikih Campurnya Shof Dalam Kampanye 02 Di GBK JAKARTA"

Posting Komentar