Guru NU Harus Waspada Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Kelas V SD/MI



Terasa sesak jika buku yang dibuat pembelajaran di sekolah juga terjadi takhrif (pemelintiran sejarah tidak sesuai fakta aslinya). Entah dengan tujuan apa mereka banyak sekali melakukan takhrif baik di kitab-kitab klasik karya ulama' salaf yang dikaji oleh pondok pesantren maupun media sosial. Bahkan tak luput pula sekarang sudah memulai melakukan takhrif di buku pelajaran tematik terpadu kurikulum 2013 kelas V SD/MI dengan judul Peristiwa Dalam Kehidupan (Tema 7) halaman 45 yang diterbitkan oleh Kemendikbud RI 2017.

Dalam buku tersebut tertulis demikian:

Masa Awal Radikal (tahun 1920-1927-an). Perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah pada abad ke-20 disebut masa radikal karena pergerakan-pergerakan nasional pada masa ini bersifat radikal/keras terhadap pemerintah Hindia Belanda. Mereka menggunakan asas nonkoperatif/tidak mau bekerja sama. Organisasi-organisasi yang bersifat radikal adalah Perhimpunan Indonesia (PI), Partai Komunis Indonesia (PKI), Nahdlatul Ulama (NU), Partai Nasionalis Indonesia (PNI). 


Seperti yang dilansir oleh NU Online,
Menanggapi materi dalam buku tetsebut, Katib Syuriyah PCNU Jombang Ahmad Samsul Rijal menilai pendeskripsian atau penggambaran model perjuangan kelompok, khususnya NU seperti dalam buku tersebut tidaklah tepat. 

"(Pendeskripsiannya) bahkan cenderung merendahkan NU dari sudut pandang model perjuangan kelompok pada saat ini. Penggunaan sudut pandang atau terminologi saat ini (radikal) untuk menilai NU dengan model perjuangan masa lalu tidak seperti yang dideskripsikan dalam buku tersebut," terangnya kepada NU Online melalui sambungan telepon, Selasa (5/2).

Bahkan deskripsi seperti itu menurutnya merupakan bentuk "pengaburan" karakter berjuang NU (ulama, thariqah dan pesantren) atau menyamakannya dengan kelompok lain sebagaimana tulisan dalam buku tersebut.

Deskripsi ini lanjutnya, bisa berdampak negatif, dalam sudut pandang saat ini (dengan menggunakan istilah radikal), bahwa seolah membenarkan model radikalisme yang digunakan kelompok lain saat ini karena seolah NU juga pernah melakukan hal yang sama.

"Deskripsi itu menguatkan dugaan bahwa penulis adalah orang, tim atau kelompok yang tidak memahami karakteristik perjuangan NU. Atau sengaja ingin menyamakan NU dengan PKI atau lainnya. Penulis adalah orang dengan karakter pejorative (merendahkan) terhadap NU, serta sedang mencari pembenaran terhadap perjuangan radikal saat ini," terangnya.

Bila demikian, maka penulis adalah bagian dari kelompok radikal yang saat ini berkembang di Indonesia. 

Kiai Rijal mengajak masyarakat khususnya warga NU untuk berhati-hati dengan tulisan tersebut karena bila dibaca, dipahami hingga tertanam dalam memori pembaca maka akan terjadi hal-hal negatif.

Pertama, memunculkan keragu-raguan (tasykik). Menimbulkan keragu-raguan dan pendangkalan jiwa terhadap sesuatu yang telah diyakini yakni keragu-raguan dan pendangkalan jiwa generasi NU terhadap jam’iyyah dan jama’ahnya.

Kedua, pemburukan (tasywih). Menghilangkan kebanggaan terhadap NU dengan menggambarkan hal-hal yang saat ini dinilai buruk (radikal), terbelakang dan lain-lain dan menyamakan kata radikal terhadap NU.

Ketiga, Pencampuradukan (tadzwiib). Mencampuradukkan atau melarutkan perbedaan seolah menjadi sama antara karakteristik perlawanan NU terhadap penjajah dengan istilah radikal sebagai gerakan fundamentalis atau purifikasi terhadap sistem mainstream (pemerintah).   

Oleh karenanya Kiai Rijal berharap Kemendikbud RI dapat meneliti kembali dan melakukan revisi serta tabayyun (klarifikasi) dengan NU agar mendapatkan gambaran dan deskripsi yang jelas jika akan menggambarkan periodesasi pergolakan nasional pada saat itu yakni 1920-1927-an, khususnya mengenai NU. 

"Terlebih NU berdiri ditahun 1926, sehingga pergolakan nasional yang dimotori oleh kiai, thariqah dan pesantren dapat dideskripsikan dengan tepat dan benar," tambahnya.

Kiai Rijal mengingatkan bahwa Nahdlatul Ulama yang di dalamnya adalah para kiai, pesantren dan thariqah adalah komunitas nusantara yang sejak abad 15 hingga 20 merupakan pejuang peradaban sekaligus pejuang melawan penjajah dan kolonialisme.

"Sejarah membuktikan itu (perjuangan NU) sejak Kesultanan Demak, Ternate, Tidore, Diponegoro hingga Resolusi Jihad yang memicu perang Surabaya 10 Nopember serta perang setelahnya. Setiap perang fisik yang dimotori oleh ulama atau kiai, thariqah dan pesantren bersambung mengilhami serta dilanjutkan oleh generasi berikutnya," terangnya.

Dengan demikian secara prinsip Jam'iyyah NU tidak pernah dijajah karena selalu melakukan perlawanan dan berjuang terhadap penindasan. (Muhammad Faizin).

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Guru NU Harus Waspada Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Kelas V SD/MI"

  1. iya memang awalnya kaget jika mendengar kata Radikal apalagi disematkan kepada Organisasi ke agamaan yang mana telah banyak memberikan kontribusi kepada NKRI, tetapi kalau dilihat lebih teliti ada benarnya karena pada waktu dan zaman berbeda, itu kan menceritakan pada zaman belanda sedangkan belanda pada waktu itu suatu pemerintahan yang berkuasa menurutnya siapa saja yang tidak suka terhadap kebijakan-kebijakannya sebagai penjajah pada waktu itu dianggap Radikal salah satunya adalah kaum NU yang anti penjajahan yang dilakukan belanda. hal Pelajaran bagi kita, di zaman serba terbuka jangan sampai Seperti Zaman Belanda.

    BalasHapus
  2. iya memang awalnya kaget jika mendengar kata Radikal apalagi disematkan kepada Organisasi ke agamaan yang mana telah banyak memberikan kontribusi kepada NKRI, tetapi kalau dilihat lebih teliti ada benarnya karena pada waktu dan zaman berbeda, itu kan menceritakan pada zaman belanda sedangkan belanda pada waktu itu suatu pemerintahan yang berkuasa menurutnya siapa saja yang tidak suka terhadap kebijakan-kebijakannya sebagai penjajah pada waktu itu dianggap Radikal salah satunya adalah kaum NU yang anti penjajahan yang dilakukan belanda. hal Pelajaran bagi kita, di zaman serba terbuka jangan sampai Seperti Zaman Belanda.

    BalasHapus