Kriteria Hewan Yang Menjijikkan


Pertanyaan :
Assalamualaikum wr. wb.
yai mau tanya mengenai hukum entung (kepompong daun jati), di lingkungan saya (Kab. Blora) memakan entung sudah menjadi kebiasaan, padahal secara umum kepompong /ulat itu berhukum haram karena menjijikkan, lalu bagaimana dengan masyarakat yang tidak jijik, dan itu hampir seluruh masyarakat Kab. Blora.
jika berhati-hati maka meninggalkan yang subhat lebih baik, etapi bagaimana hukumnya entung tersebut terlepas dari kehati-hatian?
mohon pencerahannya yai, terimakasih

Jawaban :
Wa'alaikumus salam wr wb.
Terimakasih atas kunjungannya di web kami, semoga Allah tetap memberikan keberkahan untuk kita semua. Aamiin

Pertama kami mau menguraikan sedikit tentang hewan yang dianggap jijik dan tidaknya. Hewan yang tidak dijelaskan hukumnya secara langsung di Al -qur'an ataupun al hadits maka diperinci sebagai berikut:

1. Jika hewan tersebut dianggap tidak menjijikkan oleh orang arab maka halal dan jika dianggap menjijikkan maka hukumnya haram, dengan dasar firman Allah
وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ [الأعراف:١٥٧]
Tinjauan orang arab tersebut adalah ahli roif (orang yang sudah terbiasa dengan makanan enak), penduduk kota (bukan pelosok), berkecukupan (bukan yang fakir), dan tidak dalam keadaan dhorurot.

2. Jika kalangan orang arab ada yang menganggap enak dan yang lainnya menganggap jijik maka yang diambil adalah mayoritas.

3. Jika hewan tersebut berada di daerah 'ajam (selain tanah arab) maka disamakan dengan hewan yang ada di arab, jika diarab dihalalkan maka halal dan jika di arab diharamkan maka haram.

4. Jika di arab tidak ditemukan hewan yang menyamainya maka terjadi khilaf, menurut abu ishaq adalah halal.

Refrensi :

المهذب ١ / ٤٥٣
فصل: وما سوى ذلك من الدواب والطير ينظر فيه فإن كان مما يستطيبه العرب حل أكله وإن كان مما لا يستطيبه العرب لم يحل أكله لقوله عز وجل: {وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ} [الأعراف:١٥٧] ويرجع في ذلك إلى العرب من أهل الريف والقرى وذوي اليسار والغنى دون الأجلاف من أهل البادية والفقراء وأهل الضرورة فإن استطاب قوم شيئاً واستخبثه قوم رجع إلى ما عليه الأكثر وإن اتفق في بلد العجم ما لا يعرفه العرب نظرت إلى ما يشبهه فإن كان حلالاً حل وإن كان حراماً حرم وإن لم يكن له شبيه فيما يحل ولا فيما يحرم ففيه وجهان: قال أبو إسحاق وأبو علي الطبري: يحل لقوله عز وجل: {قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَماً مَسْفُوحاً أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ} [الأنعام:١٤٥] وهذا ليس بواحد منها وقال ابن عباس رضي الله عنه: ما سكت عنه فهو عفو ومن أصحابنا من قال: لا يحل أكله لأن الأصل في الحيوان التحريم فإذا أشكل بقي على الأصل
ARTIKEL SELANJUTNYA Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
ARTIKEL SELANJUTNYA Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

by Official Pesantren NUsantara