Hukum Keputihan




Keputihan dan cairan yang keluar dari vagina
Keputihan adalah getah atau cairan yang keluar dari vagina, yang ditimbulkan infeksi jamur. Dalam ilmu kedokteran disebut jamur Candida. Kehangatan dan kelembaban vagina, merupakan lingkungan yang ideal untuk tumbuhnya jamur. Getah atau cairan yang ditimbulkan keputihan berwarna putih, kental, keruh dan ke kuning"an. Biasanya rasanya gatal, membuat vagina meradang dan luka.

Penyebab timbulnya keputihan diantaranya:
Menopause, Yaitu masa yang sudah tidak keluar haidl. Sebab dengan aktif keluar haidl, ada cairan yang selalu membasahi dinding vagina dan mempertahankan vagina tetap segar dan sehat.
Pil penghambat ataupun penyubur kehamilan, Hal ini disebabkan, pil tersebut mempunyai efek mengurangi ketahanan pelindung vagina dari infeksi jamur
Efek dari kontrasepsi dalam rahim 
Stress
Celana yang terbuat dari nilon
Celana ketat
Sabun bubuk pembersih

Apakah getah vagina termasuk darah haidl?
Dalam kitab" fiqh dijelaskan bahwa, haidl adalah darah yang keluar dari urat (otot) yang pintunya terdapat pada penghujung uterus (pangkal rahim/aqsho alrohmi) yang punya warna, sifat dan masa yang khusus.Sedangkan istihadloh adalah darah yang keluar dari urat dibawah uterus (adna alrohmi) diluar masa haidl. Dengan demikian, getah vagina dan keputihan bukanlah darah haidl dan istihadloh, karena keluar dari luar anggota tersebut.

Dan hukumnya keputihan ditafshil sebagai berikut:
Lendir atau kelembaban yang keluar dari organ farji yang wajib dibasuh ketika istinja' (organ farji yang tampak ketika wanita duduk) maka hukumnya suci.

Bila keluar dari dalam farji yang paling dalam (organ farji yang tidak tersentuh dzakar mujami') maka hukumnya najis karena tergolong keluar dari dalam (jauf).
Bila keluar dari organ farji yang tidak wajib dibasuh namun dapat terjangkau dzakar mujami' maka hukumnya suci menurut qoul ashoh.

إعانة الطالبين ج 1 ص 106
قوله رطوبة فرج) معطوف على بلغم. أي فهي طاهرة أيضا,سواء خرجت من آدمي أو من حيوان طاهر غيره. (قوله :على الأصح ) مقابله أنها نجاسة.(قوله:وهي)أي رطوبة الفرج الطاهرة على الأصح.(قوله:متردد بين المذي ووالعرق) أي ليس مذيا محضا ولا عرقا كذالك. (قوله:الذي لايجب غسله) خالف فى ذالك الجمال الرملي, وقال: إنها إن خرجت من محل لايجب غسله فهي نجسة, لأنها حينئذ رطوبة جوفية. وحاصل ما ذكره الشارح فيها أنها ثلاثة أقسام: طاهرة قطعا, وهي ما تخرج مما يجب غسله فى الإستنجاء, وهو ما يظهر عند جلوسها. ونجسة قطعا, وهي ما تخرج من وراء باطن الفرج, وهو ما لايصله ذكر المجامع. وطاهرة على الأصح, وهي ما تخرج مما لايجب غسله ويصله ذكر المجامع. وهذا التفصيل هو ملخض ما فى التحفة. وقال العلامة الكردي :أطلق فى شرحي الإرشاد نجاسة ما تحقق خروجه من الباطن, وفى شرح العباب بعد كلام طويل. والحاصل أن الأوجه مادل عليه كلام المجموع. أنها متى خرجت مما لايجب غسله كانت نجسة.

Dan jika cairan itu terus menerus keluar, maka hukumnya seperti istihadloh (daimul hadats) dan tatacara bersuci serta ibadahnya akan dijelaskan pada permasalahan mustahadloh.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hukum Keputihan"

Post a Comment